Cuti Sebagai Hak Buruh

cutiUU No. 13 tahun 2003 membedakan cuti tahunan (12 hari kerja) dan cuti besar.

selain cuti tahunan dan cuti besar adalah buruh masih mendapatkan hak cuti diantaranya:

  • Cuti Sakit
  • Cuti Bersalin / Cuti Melahirkan
  • Cuti Besar
  • Cuti karena alasan penting

Adapun yang dimaksud dengan Cuti karena alasan penting adalah Dalam pasal 93 ayat 4 UU no. 13/2003 Tentang Tenaga Kerja disebutkan bahwa pekerja berhak atas cuti tidak masuk kerja karena halangan dan tetap dibayar penuh. Alasan/keperluan penting tersebut mencakup :

  • Pekerja menikah, dibayar untuk 3 (tiga) hari
  • Menikahkan anaknya, dibayar untuk 2 (dua) hari
  • Mengkhitankan anaknya, dibayar untuk 2 (dua) hari
  • Membaptiskan anaknya, dibayar untuk 2 (dua) hari
  • Istri melahirkan/mengalami keguguran kandungan, dibayar untuk 2 (dua) hari
  • Suami/istri, orang tua/mertua, anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk 2 (dua) hari
  • Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, dibayar untuk 1 (satu) hari.

Esensi: Perlindungan terhadap buruh yaitu penyimpangan dibawah normatif tidak boleh . Contoh: UMR DKI minimal Rp 1.540.000,00 dan perusahaan memberikan upah Rp 2.000.000,00 maka hal tersebut diperbolehkan Bila buruh sakit dan menyertakan surat keterangan dokter yang dapat dipertanggung jawabkan maka ia berhak mendapatkan upahnya (tetap dibayar). Bila buruh mengalami sakit selama setahun, maka gajinya dibagi per (3 bulan pertama akan memperoleh gaji full, 3 bulan berikutnya mendapatkan ¾ dari gajinya dan seterusnya) dan apabila setelah setahun masi tida bisa bekerja, buruh tersebut dapat dikenakan PHK.

 

NPS Law Office
Office 8 Level 18-A Sudirman Central Business
District (SCBD) Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53 Jakarta Selatan 12190
< !-My calendar widget - HTML code - mycalendar.org -->< !-end of code-->
< !-Local Time Clock widget - HTML code - localtimes.info -->< !-end of code-->
Flag Counter
PageRank Checker