Perbedaan Das Sollen dan Das Sein

1. Das sollen, yaitu kaedah hukum berisi kenyataan normatif (apa yang seyogyanya dilakukan) Contoh:“Barangsiapa mencuri harus dihukum”; “Barangsiapa membeli sesuatu harus membayar”.

2.  Das sein, yaitu kenyataan alamiah atau peristiwa konkrit. Contoh : Kalau secara nyata-nyata telah terjadi seseorang mencuri, kalau nyata-nyata telah terjadi seseorang membeli sesuatu tidak membayar.

Ketentuan yang berbunyi “barangsiapa yang mencuri harus dihukum” tidak  berarti bahwa telah terjadi peristiwa pencurian dan pencurinya dihukum, tetapi barangsiapa mencuri harus dihukum. Persyaratannya (mencuri) menyangkut peristiwa (sein), sedangkan kesimpulannya (dihukum) menyangkut keharusan (sollen). Dihukumnya pencuri bukanlah merupakan akibat pencurian. Orang tidak dihukum karena (sebagai akibat) mencuri, tetapi pencuri harus dihukum berdasarkan undang-undang yang melarangnya. Di sini tidak berlaku hukum sebab akibat. Kaedah hukum itu bersifat memerintah, mengharuskan, atau preskriptif.

Das sollen memerlukan Das sein, karena kaedah hukum merupakan ketentuan atau pedoman tentang apa yang seyoyganya atau seharusnya dilakukan. Sebagai pedoman kaedah hukum bersifat umum dan pasif. Agar kedah hukum itu tidak berfungsi pasif, agar kaedah hukum itu aktif atau hidup, diperlukan “rangsangan”. Rangsangan untuk mengaktifkan kaedah hukum adalah peristiwa konkrit (das sein). Dengan terjadinya peristiwa konkrit tertentu kaedah hukum baru dapat aktif, karena lalu dapat diterapkan pada pertistiwa konkrit tersebut. Selama tidak terjadi peristiwa konkrit tertentu maka kaedah hukum itu hanya merupakan pedoman pasif belaka. Peristiwa konkrit merupakan aktivator yang diperlukan untuk dapat membuat aktif kaedah hukum.

Das sein memerlukan Das sollen, karena kaedah hukumlah peristiwa konkrit itu menjadi peristiwa hukum. Peristiwa hukum adalah peristiwa yang relevan bagi hukum, peristiwa yang oleh hukum dihubungkan dengan akibat hukum atau peristiwa yang oleh hukum dihubungkan dengan timbulnya atau lenyapnya hak dan kewajiban. Suatu peristiwa konkrit tidak mungkin dengan sendirinya menjadi peristiwa hukum. Suatu peristiwa hukum tidak mungkin terjadi tanpa adanya kaedah hukum. Peristiwa hukum tidak dapat dikonstatir tanpa menggunakan kaedah hukum. Peristiwa hukum itu diciptakan oleh kaedah hukum. Sebaliknya kaedah hukum itu dalam proses terjadinya dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa konkrit. Apakah suatu peristiwa itu peristiwa hukum itu tergantung pada adanya kaedah hukum. Kaedah hukum itu mengkualifisir suatu aspek dari suatu peristiwa menjadi peristiwa hukum. Apakah suatu aspek dari kenyataan itu dapat berlaku sebagai peristiwa hukum tergantung pada kaedah hukum yang bersangkutan, yaitu dapat diterapkan dalam situasi yang konkrit. Contoh: Merokok merupakan peristiwa konkrit, tetapi kalau ada orang merokok didekat pompa bensin yang ada papan larangan merokok dan kemudian terjadi kebakaran yang disebabkan oleh rokok orang tersebut, maka merokok menjadi peristiswa hukum yang dapat menyebabkan si perokok dihukum.

 

NPS Law Office
Office 8 Level 18-A Sudirman Central Business
District (SCBD) Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53 Jakarta Selatan 12190
< !-My calendar widget - HTML code - mycalendar.org -->< !-end of code-->
< !-Local Time Clock widget - HTML code - localtimes.info -->< !-end of code-->
Flag Counter
PageRank Checker